4 Tradisi Lebaran yang Paling Ngangenin

by - Mei 30, 2019

It's time to kangen-kangenan sama tradisi lebaran. Tinggal dan hidup di Desa, tuh, terlalu banyak tradisi lebaran yang pada akhirnya menyisakan kangen atau bahkan bikin baper. 🙊Aku, dong, punya banyak tradisi lebaran di kampung. Karena saking banyaknya, aku ambil empat tradisi yang paling ngangenin. 😎



Sebelum ngobrolin tradisi lebaran, mungkin hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengingat kembali kegiatan atau hal istimewa apa saja yang dilakukan saat lebaran. Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Mudik, misalnya. 

Kegiatan mudik menjadi salah satu tradisi yang mungkin sangat ditunggu-tunggu oleh mereka para perantau. Karena aku hampir tiap seminggu sekali mudik (saking dekatnya jaral buat mudik, yaitu di Wonosobo), aku tidak memasukan mudik ke dalam daftar tradisi lebaran yang ngangenin meski bagi sebagian orang mungkin momen ini sangat ditunggu-tunggu semenjak ramadhan tiba.

Nah, berikut empat tradisi lebaran yang oaling ngangenin versi aku!


Oncor-oncoran

Ada yang tahu oncor? Itu lho, obor yang terbuat dari bambu yang biasanya berdiameter tidak lebih dari 5 cm, lalu diisi dengan minyak tanah dan atasnya ditutup menggunakan kain. Pada bagian bawah oncor, biasanya juga diberi pegangan untuk memudahkan saat penggunaan dan supaya tangan tidak panas.

Kegiatan oncor-oncoran di kampungku ini dilakukan pada malam takbirab. Aktovitasnya hanya berkeliling kampung dimulai dari titik tengah yaitu lapangan desa, kemudian berjalan mengelilingi kampung sambil diiringi dengan musik bedug. Sambil membawa oncor, anak-anak terlihat bahagia banget! Dari aku kecil, tradisi ini paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak. 

Pernah saat malam lebaran agak gerimis. Aku kira kegiatan ini bakal batal karena cuaca tidak mendukung. Namun saking tingginya antusias anak-anak, banyaknya anak yang sudah siap dengan oncornya, panitia pun nampak galau. Kegiatan yang biasanya dimulai pukul 19.00 WIB, malam itu terpaksa dilakukan pukul 22.00 WIB karena menunggu hujan reda. Dan yang bikin takjub, anak-anak yang sedari tadi menunggu kegiatan ini masih terjaga, lho. Mereka pada takbiran di Mushola dan atau Masjid sambil menunggu hujan reda. Luar biasa untuk tradisi yang satu ini.

Lebaran Ketupat
Usai menjalankan ibadah sunnah yaitu sholat idul fitri atau idul adha, tradisi selanjutnya di kampungku yaitu lebaran ketupat. Di kampungku, tradisi ini dilakukan tiap RT. Karena pesertanya tidak terbatas, tempatnya pun bebas asal bersih dan luas. Ada yang menyelenggarakannya di Mushola, Masjid, dan atau jalan raya tergantung ketersediaan tempat ibadah. Jadi gini, misal dalam satu dusun hanya terdapat 2 mushola, sementara ada lebihbdari dua RT, ya berarti salah satunya mengalah dengan melakukan tradisi lebaran ketupat di jakan raya.

Tiap satu kekuarga diminta untuk membawa satu sajian untuk dimakan bersama-sama. Uniknya nih, ada tukar sajian. Jadi, sajian yang berisi ketupat dan lauk pauk yang dibawa oleh masing-masing keluarga diacak penataannya supaya para JAMA'AH tidak menikmati hasil olahan sendiri. Iya, supaya bisa mencicipi masakan tetangga.

Tradisi ini termasuk ngangenin karena kapan lagi bisa kumpul satu RT buat makan bersama. Selain sebagai ajang silaturahim, tradisi ini mengingatkan kita untuk berbagi saat lebaran.

Ziarah Kubur
Kamu termasuk keluarga yang melakukan ziarah kubur dini hari (sebelum terbit fajar) atau setelah sholat ied? Di keluargaku terbagi menjadi dua tim, nih. Namun, sebagian besar melakukan ziarah kubur setelah sholat ied dan sebelum lebaran ketupat.

Ziarah kubur saat lebaran termasuk tradisi yang ngangenin karena pada hari itu juga pemakaman penuh dengan peziarah. Bisa dibayangkan, betapa bahagianya keluarga kita yang sudah di alam sana? Dikunjungi banyak keluarga, kemudian didoakan bersama-sama. Kebersamaan untuk mendoakan arwah keluarga atau saudara di pemakaman menjadi salah satu tradisi lebaran yang ngangenin karena kapan lagi pemakaman ramai peziarah kalau bukan pada hari lebaran. Hampir seluruh masyarakat desa datang ke pemakaman, lho.

Sungkeman
Kangen masakan Uwa? Atau, kangen kue bikinan saudara? Makanyaaaa, sungkeman dulu! Hahaha. Jadi, selain berniat meminta maaf atas segala dosa dan khilaf, subgkeman ini menjadi tradisi yang ngangenin karena dari kegiatan ini aku dapat mencicipi masakan saudara cita rasa lebaran dan juga mendapat angpaaaao! *haaaaah...udah kawakan masih terima angpao?* Yaaaa tidak laaah, maksudnya dulu, pas masih kecil suka ikut orang tua sungkeman ke sana sini cuma buat ngumpuling angpao. Hahaha. Parah, ya.

Asli, sungkeman ini menjadi tradisi lebaran yang ngangenin karena ada momen yang tidak biasa di sini. Meminta maaf kepada orang tua dan atau saudara dengan menekuk lutut, misalnya. Ini hanya dilakukan saat sungkeman lebaran, bukan. Eh btw, sungkeman pas nikahan juga menekuk lutut, ya. Tapi tetap lah berbeda karena angpaonya juga beda. *eeeeehhhh 😂

Kamu punya tradisi lebaran yang ngangenin? Apaa hayooooo...bagi ceritaa, dong! ❤

You May Also Like

0 komentar

Haai...maaf kalau aku ngga balas komentar kalian, ya. Tombol balas komentar belum bisa difungsikan. Hihihi