#Hiroku

by - September 08, 2017

Tiap manusia itu unik. Ngga ada yang sama baik dari sisi fisik, apalagi kepribadian. Selalu saja ada yang beda, sekalipun anak kembar. Perbedaan-perbedaan seperti itu pernah menggoyahkan hati dan membuatku sedikit stress. Tepatnya saat aku memutuskan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang sekarang telah menjadi suamiku. Eh, ini kayaknya kena syndrome pra nikah, ya. πŸ˜‚



Tuhan telah menciptakan laki-laki dan perempuan, menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ini tentang jodoh dan aku selalu mempercayainya. Namun ketika mulai masuk dalam obrolan pernikahan, ternyata nyaliku tak cukup besar. Banyak pertanyaan yang harus aku jawab sendiri karena tentang keyakinan. Banyak hal-hal sepele yang sempat membuatku maju mundur untuk menikah. Salah satunya yaitu tentang perbedaan kepribadian.

Banyak yang bilang, jodoh adalah cerminan diri. Artinya, ketika perilaku seseorang baik, maka dia akan berjodoh dengan orang baik. Dan ini berlaku sebaliknya. Merinding ngga? πŸ™ŠTerlebih, bagi mereka yang menginginkan pernikahan cukup sekali seumur hidup. Pasti milih pasangannya hati-hati dan pelan-pelan banget. Ngga memilih yang perfect, tapi yang terbaik. Entah terbaik versi sendiri, maupun Tuhan.

Sekian tahun bersama dalam ikatan pacar, ngga menjamin saat menikah nanti keduanya harmonis dengan alasan sudah lama kenal, saling paham kepribadian satu sama lain. Baru kenal beberapa bulan, pun ngga menjamin keduanya bakal pisah cepat karena perkenalannya kurang. Ngrrr...serius amat, yaaa. Behiiiks...

Menikah, bagiku adalah tentang bagaimana bisa menghargai, bagaimana bisa menjaga komunikasi, bagaimana bisa menyikapi dua kepribadian dengan bijak, dan bagaimana bisa mencari solusi untuk segala perbedaan yang ada pada dua sisi. Masak sih, sampai sini dowang? Ooo...tentu saja ngga. Masih banyak argument dan jika aku tulis mungkin akan tambah panjang postingan ini. πŸ˜‚



Saat aku menulis postingan ini, Si Kecil dan Suami sudah lelap. Mereka tidur berhadapan. Telapak tangan kiri Syaquita berada di atas telapak tangan kiri Ayahnya. Betapa dua makhluk kesayanganku ini begitu dekat. Banyak aktivitas yang kerap mereka lakukan bersama sebelum pada akhirnya tertidur. Pun saat sedang jalan-jalan, mereka nampak menikmati jalan berdua. Sementara aku, ada di belakang mereka atau di sampingnya. 

Sebagai Ibu, apakah aku iri?

Ngga! Aku suka melihat kedekatan mereka. Waktu yang dimiliki suami untuk Syaquita ngga sebanyak waktuku. Aku membiarkan mereka jalan berdua, bermain berdua, ngobrol berdua, sampai akhirnya tercipta komunikasi yang baik.

Sampai di sini, kadang aku masih suka ngga percaya, bahwa aku diberi suami yang begitu baik. Bahwa aku bisa hidup sebahagia ini karena memiliki suami yang perhatian. Seperti sore ini, perut masih terasa ngga enak. Seneb, mual, karena mungkin kemarin salah makan. Kayak keracunan makanan, gitu. Ngga enak blas. Sampai akhirnya, sepulang kerja aku langsung tiduran sambil nenenin Syaquita, dan ngobrol ke suami kalau perutku masih ngga enak.



"Aku beliin kelapa muda, ya. Minum sampai habis biar racun-racunnya melebur, terus ilang."

"Belinya dimana? Jauh ngga?"

"Ngga. Di dekat PIKAS ada, kok."

"Oooh...oke."

Dia pun keluar kamar dan bergegas menyalakan motornya. Ya Tuhan, betapa suamiku ini baik banget. Kadang aku malu, karena perhatian yang dia berikan kepadaku porsinya lebih banyak ketimbang perhatian yang kuberikan kepadanya. πŸ™ˆ Asli, aku beruntung banget diberi lelaki yang spesial ini. Ini baru secuil kebaikannya, ya. Lebih merinding lagi, saat dia mendukung penuh hobiku sebagai Blogger yang suka piknik. Aku merasakan ketangguhan, kesiapan, dan perhatiannya yang ngga tanggung-tanggung!

Dia selalu tahu apa yang musti dilakukan. Membawa dua wanita yang dia sayangi dengan mengendarai sepeda motor, melewati jalan rusak sekalipun bakal dia jabanin jika dirasa masih dalam batas aman dan bisa dikendalikan. Belum lagi jika medannya cukup menantang, Syaquita akan sepenuhnya dalam gendongannya! 😍

Sampai sini, tak henti-hentinya bersyukur karena telah diberi suami yang begitu sabar dan bertanggung jawab. Aku sering mengutarakan kepada Suami, bahwa kesabarannya melebihi batas kesabaran yang aku punya. Namun dia selalu membantah.


"Mau gimanapun, seorang Ibu jauh lebih sabar ketimbang seorang Ayah." Begitu katanya. Aku ngga tahu dia dapat rumus dari mana. Padahal, jelas-jelas aku lebih sering snewen, lho. πŸ˜‚

Pernah aku tanya saat dalam perjalanan menuju Makam Ki Ageng Giring. Saat itu, kami menghadiri acara nyadran gede di Desa Gumelem. Wajahnya nampak ngga asyik, dia juga terlihat ngga nyaman saat tiba di lokasi. Ini ngga seperti biasanya, akupun meledeknya.

"Kamu lapar, ya? Duuuh...padahal waktu makan masih lama."

Iya, yang aku tanyakan pertama kali adalah lapar atau ngga. Karena kalau sampai kelaparan, dia akan lemas dan bakal hilang konsentrasinya. πŸ˜‚Dia hanya senyum, duduk, lalu mengutarakan kecemasannya bahwa waktu yang dia punya ngga banyak karena harus sampai kantor tepat jam 14.00 WIB. Ya, dia harus kerja, sementara jam 11.00 WIB masih di Makam. πŸ™Š Ini sungguh memaksa, ya. Tapi gimana lagi, aku sudah mengurungkan niat ikut ke Makam, tapi dia pingin melihat tradisi nyadran gede yang hanya dilakukan setahun sekali. πŸ˜€

Sampai di sini, lelaki yang tiap pagi selalu bantuin aku gantiin diapers Syaquita, layak diberi reward setinggi-tingginya berupa hastag #hiroku di blog ini. Hahaha. Rewardnya ini dowang? Ya ngga lah! Tapi yang kalian tahu cukup reward ini. Ngga usah kepoh. Mungkin tiap bulan akan ada satu postingan yang menceritakan tentang Ayah Syaquita. 

Hidiiw...penting banget, ya. Demi apaaaaa?



Demi mendapat layanan pijit gratis tiap malam! πŸ˜†πŸ˜† Yoooi, suamiku ini rajin banget mijit akikaaa dan mijitnya tuh minimal satu jam. Cuamiquwh kewren banget, yaaa! Eh, kalian ngga usah heran apalagi syok kalau  di sini menjumpai pekerjaan yang harusnya dikerjakan perempuan, tiba-tiba dikerjakan laki-laki, ya . Menjemur baju, misalnya. Karena di keluarga kami sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong. Hokyaaaa, #hiroku, #myhiro.πŸ’ƒπŸ’ƒ

You May Also Like

2 komentar

  1. Alhamdulillah ya dapat suami yang perhatian dan pengertian :)

    BalasHapus
  2. Pengertian banget ya Idah. Senangnyaaa.

    BalasHapus

Haai...maaf kalau aku ngga balas komentar kalian, ya. Tombol balas komentar belum bisa difungsikan. Hihihi

Activity On Instagram