Gagal Menyapih, Kok Bisa?

by - Februari 19, 2018

Katanya, bayi yang masih dalam kandungan sudah dapat diajak kerja sama. Ibu ngeluh dikit, si jabang bayi bisa ngertiin. Ibu lagi bahagia, si jabang bayi ikut loncat-loncat di dalam. Ini aku udah ngerasain beberapa kali saat hamil Yasmin, dan itu benar adanya. Makanya, lima hari sebelum menyapih Kecemut, aku kerap menyampaikan kepadanya bahwa, tak lama lagi dia ngga nenen karena usianya sudah dua tahun. Setelah nanti ada acara tiup lilin, berarti si enen digembok otomatis. Dengan melakukan komunikasi seperti ini aku berharap, tepat diusianya dua tahun yaitu tanggal 15 Januari 2018, dia sudah siap.

Dan pada praktiknya...


Yang udah disapih...
Aku punya rencana ngajak Kecemut main ke Yogya. Ini seperti kado ulang tahun, gitu. Ya meski sebenarnya Mamaknya yang pingin main (juga), sih. Hahaha. Suatu malam, saat aku sedang mengusap pipinua, ada setan yang menggodaku.

"Kamu yakin mau menyapih? Bisa-bisa nanti travelingnya ngga nyaman lho." Ini bisikan setan yang maut banget sumpah! 

Lalu aku kembali berpikir untuk menyapih. Karena memang ada rasa takut kalau dia akan rewel saat diajak main, aku ngga mau nanggung risiko. Ya kalau di penginapan nantinya dia bisa kalem, semisal sebaliknya? Sumpah, godaan setan terkutuk itu berat banget.

Akhirnya aku putuskan untuk menyapih Kecemut seminggu setelah pertambhan usianya. Dasar Ibu-ibu ngga PD-an, ya. Hahaha.

Lanjut...

Januari hampir berakhir, tapi aku belum juga bertekad untuk kembali menyapih Kecemut. Apalagi saat itu aku bersama teman-teman GenPI Banyumasan punya rencana untuk menghadiri undangan Featival di Cilacap pada penghujung bulan. Haaaah! Godaan kembali datang. Aku pun ngga berani berniat untuk menyapih nya (lagi).  Takut di Cilacap dia rewel, ngga tenang. Hampir dua minggu pasca ulang tahum, enen pun kembali aku berikan, kembali diisap. πŸ™ˆ

Ini kenapa ngga beraninya dengan alasan yang sama, sih? Pergi ke luar kota menjadi alasan terus-menerus!

Duuuh, secara ya, dia ngusel ketek sambil nenen dalam hitungan menit pasti langsung tertidur. Ini sudah dipastikan. Pokoknya ketek Ibunya udah mirip bius lokal. Jadi pikirku, ketika nanti dia rewel tinggal dikasih bius lokal saja, beres! Makanya, aku gagal menyapih saat usia Yasmin tepat dua tahun. Padahal rencananya, aku dan suami kompak banget menyapih Kecemut di usia dua tahun. 

Ini karena Ibunya pingin menang sendiri, nih. Pingin enak sendiri, terlalu banyak alasan, dan terlalu banyak ketakutan. πŸ™ˆ

Ternyata alasan seperti ini sungguh tidak indah BukIbu dan Pak Bapak. Semakin menunda si kecil untuk menyapih, semakin dia nyaman untuk terus enen, seperti keranjingan, gitu. Ya...meski ada metode yang namanya WWL (Weaning With Love), tapi sebagai Ibu ingin segera menyapih anaknya ketika dia sudah masuk usia duat tahun. Eh, atau ini cuma aku dowang, ya.

Jadi, dari pengalaman aku menyapih, ternyata kalau belum niat banget buat menyapih, si kecil juga bakal ikut setengah-setengah menerima instruksi untuk ngga nenen. Selain itu, jika Ibunya belum ikhlas menyapih, biasanya ngga diberi kemudahan untuk menyapihnya. Fufufu. Betul-betul niat dan ikhlas, ini kunci utama menyapih bagi aku.

You May Also Like

4 komentar

  1. Emang sih, Mba aku jadi inget saat sukses menyapih anak tuh ada rasa ga rela gitu. Bukan cuma masalah meriangnya. Gimana yah? Berasa ada yang hilang aja rasanya.

    Tapi kan harus dilakukan yah demi anak juga.

    BalasHapus
  2. Susah-susah gampang ... eh, apa gampang-gampang susah ya? ^_^

    BalasHapus
  3. Ketek ibu : bius internasional tauk. Bukan bius lokal lagiπŸ˜‚

    BalasHapus

Haai...maaf kalau aku ngga balas komentar kalian, ya. Tombol balas komentar belum bisa difungsikan. Hihihi

Activity On Instagram