Drama Sepulang dari Boyolali

by - Desember 27, 2016

Sabtu, 24 Desember 2016. Ibu kembali memutuskan untuk mengajakmu mengikuti kegiatan orang dewasa, Nak. Kegiatan kali ini tidak seperti biasanya. Adalah kegiatan resmi. Mengantar Pak Mustofa yang telah purna tugas ke kediaman beliau di Boyolali.
Bus warna putih bertuliskan PO. Kalimanah membawa kami, rombongan kantor tempatku bekerja, menuju Boyolali. Perjalanan dari Banjarnegara menuju Boyolali ditempuh kurang lebih lima jam.

Ya, cukup lima jam. Meski sabtu itu libur panjang, namun jalan tidak macet parah. Alhamdulillaah.




Tidak banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak kecil usia sebelas bulan ketika berada di dalam Bus. Duduk, berdiri, bermain di kursi, dan bercanda dengan Budhe, Pakdhe, yang tak lain adalah rekan kerjaku. Itulah kegiatan yang dilakukan Kecemut saat terjaga.

Sebenarnya aku merasa kasihan karena Kecemut tidak bisa merangkak bebas seperti biasa. Ya, baginya merangkak menjadi salah satu aktivitas menyenangkan untuk saat ini.

Kebayang 'nikmatnya' berada di dalam Bus, total kurang lebih 11 jam. Pergi, lalu kembali pulang. Lagi-lagi aku harus mengucap syukur, alhamdulillaah karena Kecemut tidak rewel, dapat menyesuaikan diri, dan mau diajak oleh teman-temanku. Bergantian saat waktu ISHOMA, misalnya.

Selama perjalanan memang tidak ada kendala suatu apa. Pun saat tiba di rumah. Ada banyak ponakan yang masih asyik bermain. Tanpa ragu, Kecemut ikut gabung bersama mereka. Entah tidak punya rasa capek, atau memang belum ngantuk karena baru saja bangun.

Merasa sedang aman, aku meninggalkan Kecemut sebentar untuk beberes dan mandi. Yuhuui...Ibu Menyusui mandi jam 22.15 WIB pakai air dingin. Segar dingin, dong!

Mandinya tidak perlu lama-lama, cukup menghilangkan keringat yang sedari siang terus berproduksi. Boyolali panas, euy!

Ponakan satu per satu menuju kamar masing-masing. Aku segera mengajak Kecemut istirahat. Alhamdulillaah, Kecemut langsung tidur meski belum pules.

Kira-kira jam 23.45 WIB, Kecemut bangun dan menangis hebat. Bingung. Itu yang aku rasakan seketika. Dia menolak nenen, menolak diberi air putih, dan menolak pelukanku. SEDIH, BINGUNG!

Bersama suami, segala macam cara kami coba untuk menenangkan Kecemut. Namun belum berhasil. Duh..aku nyaris menangis malam itu. Tapi jangan, aku menahan air mata itu jangan tumpah samlai tumbah saat itu juga. Kecemut pasti ikut panik nanti. 

Karena tangisannya tambah kencang, Mbak iparku, Mbak Ida, yang tidur di sebelah kamar tidurku akhirnya bangun. Berisik banget, itu pasti.

Drama berawal dari sini...

"Duuuh...jangan-jangan ASI-ku hambar atau masuk angin karena aku mandi malam." Batinku malam itu.

"Tadi udah makan belum? Kalik saja dia lapar." Tanya Mbak Ida sembari memijit telapak kaki Kecemut.

"Sudah, Mbak. Di Ambarawa kami makan soto bersama." Aku yakin, tangisannya bukan karena lapar, karena sebelumnya dia cukup banyak menghabiskan soto.

Di Ambarawa, dua jam yang lalu. Sementara, sesampainya di rumah, Kecemut langsung aktif bermain bersama ponakan lainnya. Di sini aku kurang memperhatikannya. Bermain selama satu jam dengan gerakan super aktif pasti menghabiskan banyak energi. Fufufu

Tanpa pikir lama, aku mengambil nasi dan Mbak Ida mengambil lauk. Malam hari, tepat pukul 24.05 WIB, tangisan seorang bayi berhenti, tergantikan dengan lahapnya makan tengah malam. Bhahahaha.

Beberapa suap nasi telah masuk. Diapun minta nen alias minum. Mbak ida mengambil air putih,  sementara aku dan suami sama-sama heran dengan kejadian malam itu. 

"Kok kelaparan bisa sampai menolak nenen, ya." Pikirku saat itu.

Kecemut minum air puih cukup banyak. Tanpa aku beri ASI, dia langsung lelap tidur di gendongan. Ya salaaam. . .

You May Also Like

1 komentar

Activity On Instagram